Sinar Baru Produk Lokal Indonesia di Pasar Global

Lomba Menulis Artikel Kemenkeu Mengajar 10

Oleh: Qonita Nuril Qolbi

10/30/20253 min read

Di tengah ketatnya persaingan ekonomi global, produk-produk lokal buatan anak bangsa Indonesia semakin menunjukkan taringnya di panggung dunia. Fakta bahwa ekspor sektor industri pengolahan non migas Indonesia mengalami kenaikan signifikan, misalnya sebesar 16,57% pada periode Januari hingga Juni 2025 dibanding tahun sebelumny, membuktikan bahwa ungkapan “dari Nusantara ke dunia” bukan sekadar wacana kosong. Produk unggulan lokal seperti tekstil, alas kaki, furnitur, dan komoditas organik tidak hanya mampu menembus pasar luar negeri, tapi juga memperoleh pengakuan dan permintaan yang terus tumbuh. Di Kabupaten Rembang, misalnya, terdapat produk-produk lokal rakyat yang berhasil menembus pasar global, seperti Batik khas Lasem dan Arma Leather and Craft yang merupakan kerajinan kulit dari ikan pari. Kedua produk ini telah membuktikan kualitas dan nilai tersendiri sehingga mampu bersaing di panggung internasional. Hal tersebut menyatakan bahwa produk-produk Rembang bukan hanya untuk pasar lokal, tetapi juga memiliki potensi ekspor dan daya saing internasional.

Setiap kenaikan ekspor produk lokal memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia di kancah global. Produk seperti batik, kopi, rempah, dan kerajinan tradisional telah menjadi simbol warisan budaya yang diakui dunia. Keberhasilan ekspor ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga diplomasi budaya; saat orang luar negeri memakai batik Lasem atau menikmati kopi Gayo Aceh, mereka secara tidak langsung mengenal keindahan dan keragaman budaya Indonesia yang kaya. Ekspor seperti inilah yang semakin memperkokoh citra bangsa, sekaligus membawa nama Indonesia harum di mata dunia.

Selain Rembang, beberapa daerah lain yang sukses membawa produk mereka ke pasar global adalah Bandung, yang mengekspor produk fashion dan tas kulit ke Arab Saudi dan Eropa, serta Yogyakarta dengan kerajinan dan pakaian jadi yang mencapai pasar Amerika Serikat dan Jerman. Keberhasilan ini membuktikan Indonesia bukan sekadar penyuplai bahan mentah, tetapi juga produsen produk bernilai yang lahir dari kreativitas anak bangsa. Namun, pelaku UMKM masih menghadapi berbagai kendala seperti akses ekspor, digitalisasi yang belum merata, dan sertifikasi produk internasional yang harus diperbaiki. Oleh karena itu, kolaborasi lintas kementerian menjadi penting untuk memperkuat daya saing produk lokal.

Kementerian Keuangan berperan penting dalam mendukung pelaku UMKM melalui kebijakan pembiayaan, insentif pajak, dan akses modal. Program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR Ekspor) dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) telah membantu banyak usaha kecil menengah agar dapat bersaing di pasar global. Dukungan finansial tersebut vital, karena tanpa modal dan kemudahan pajak, pelaku UMKM akan kesulitan menembus pasar luar negeri. Tak kalah penting, Kementerian Pendidikan juga berperan mengajarkan dan membekali siswa dengan keterampilan wirausaha yang relevan, serta pengolahan produk lokal yang berdaya saing ekspor. Melalui program seperti “Kampus Merdeka untuk Kewirausahaan” dan “SMK Pusat Keunggulan”, siswa dan mahasiswa terbiasa menghadapi tantangan pasar global dengan kemampuan digital marketing dan inovasi produk.

Langkah ini sangat penting untuk membentuk generasi muda yang kreatif, berwawasan luas, dan paham teknologi. Dengan begitu, Indonesia dapat melahirkan lebih banyak inovator dan pengusaha lokal yang siap bersaing di pasar internasional. Sebagai bentuk apresiasi terhadap pelaku lokal yang sukses menembus pasar global, pemerintah perlu memperluas fasilitas pembiayaan ekspor dan pendampingan digital bagi UMKM daerah. Selain itu, promosi produk-produk lokal di ajang internasional seperti World Expo dan Trade Fair harus diperkuat. Kesuksesan ekspor ini bukan hanya hasil kerja keras individu, melainkan buah sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat yang mendukung produk-produk ekspor dengan memperkuat inovasi, kualitas, dan identitas budaya. Dengan cara tersebut, produk lokal Indonesia akan terus melangkah “dari Nusantara ke Dunia,” membawa nama baik tanah air di kancah internasional.

Produk lokal Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi yang mampu bersaing di pasar global. Dari batik Lasem di Rembang, kopi Gayo di Aceh, hingga kerajinan bambu dari Bandung, semua membuktikan kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat yang diterima dunia. Keberhasilan ini tentu tidak terlepas dari peran pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan yang membantu pembiayaan ekspor, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menyiapkan generasi muda berbakat dengan jiwa kewirausahaan. Fakta menunjukkan bahwa ekspor nonmigas terus meningkat, dan semakin banyak UMKM yang mampu menembus pasar luar negeri. Namun, tantangan seperti keterbatasan modal, digitalisasi yang kurang merata, dan mutu produk yang harus terus ditingkatkan masih harus dihadapi bangsa.

Menurut saya, kunci keberhasilan produk lokal di Indonesia ada pada sinergi erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan dunia pendidikan. Dukungan finansial tanpa inovasi tidak cukup, demikian juga kreativitas tanpa pemasaran global yang kuat. Oleh karena itu, setiap pihak harus aktif memainkan perannya; pemerintah sebagai fasilitator modal UMKM, dunia pendidikan sebagai pembentuk sumber daya unggul, dan masyarakat sebagai pengguna sekaligus promotor produk lokal. Saya berharap slogan “Bangga Buatan Indonesia” tidak hanya jadi kata-kata tanpa makna, melainkan menjadi gerakan nyata yang didukung seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah harus terus memperluas pelatihan ekspor, memperkuat promosi produk lokal di pasar internasional, serta memberikan insentif bagi UMKM yang berinovasi. Dengan cara ini, perjalanan dari Nusantara ke dunia bukan sekadar ekspor barang, tetapi membangun citra positif Indonesia lewat karya dan kreativitas anak bangsa serta penduduk lokal.

Ibu- ibu Pelestari Batik Lasem
Sumber: jawapos.com