Panas Peluh Kabupaten Rembang dalam Fajar Energi Baru

Lomba Menulis Artikel Kemenkeu Mengajar 10

ARTIKEL

Oleh: Ainun Najib

10/27/20255 min read

Tapi energi panas bumi bukan hanya soal listrik dalam skala besar yang megah dan jauh dari kehidupan keseharian. Ia bisa hadir dalam bentuk yang lebih dekat, lebih intim, lebih menyentuh hidup petani, nelayan, guru, dan pelajar di kabupaten Rembang. Teknologi telah membuatnya mungkin. Ada yang disebut MiniGeo, pembangkit listrik tenaga panas bumi skala kecil berkapasitas hingga 500 kW. Bukan raksasa industri yang memerlukan investasi miliaran rupiah, melainkan solusi tepat guna untuk desa-desa yang belum terjangkau listrik, serta untuk wilayah yang terlupakan dalam peta pembangunan. Bayangkan, Rembang, dengan potensi geologisdan panasnya yang kita keluhkan setiap hari, justru bisa menjadi salah satu perintis. Bukan hanya menerima listrik dari luar, tapi memproduksinya sendiri, mandiri, dan bermartabat.​

Atau pikirkan tentang petani. Selama ini mereka mengeringkan gabah dengan cara tradisional, menunggu matahari yang kadang datang terlambat, kadang disertai hujan tiba-tiba. Tapi kini ada alat pengering berbasis panas bumi, seperti oven geothermal yang bekerja lebih stabil, merata, serta efisien. Kopi Kamojang telah membuktikannya. Berkat teknologi pengering geothermal, mutu kopi meningkat, harga jual naik, dan produk lokal bisa bersaing di pasar global. Mengapa Rembang tidak? Mengapa padi, jagung, dan ikan asin dari Rembang tidak bisa mendapatkan berkah yang sama dari panas bumi yang selama ini hanya dianggap sebagai beban?​

Lalu ada pupuk Katrili, pupuk booster silika berbasis endapan geothermal yang dikembangkan Pertamina Geothermal Energy bersama Universitas Gadjah Mada. Nama yang sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Pupuk ini terbukti meningkatkan produktivitas tanaman di daerah operasional PLTP. Silika dari panas bumi, yang tadinya hanya dianggap limbah, kini menjadi harta bagi petani. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi soal cara pandang, yang meyakini bahwa apa yang kita buang bisa menjadi berkah bagi yang lainnya.

Dan jika kita bicara soal kehidupan sehari-hari yang lebih sederhana lagi, ada pemanas air rumah tangga berbasis heat exchanger geothermal. Teknologi ini menggantikan pemanas listrik konvensional yang boros energi. Implementasinya bisa digunakan pada air hangat untuk mandi, untuk memasak, serta untuk mencuci. Semua itu berasal dari panas bumi yang gratis, bersih, dan berkelanjutan. Bahkan untuk kesehatan dan pariwisata, pemandian air panas alami atau balneoterapi mulai dikembangkan sebagai wisata kesehatan. Bukan hanya untuk orang kaya, tapi untuk masyarakat lokal yang membutuhkan akses kesehatan alternatif yang terjangkau.​

Di Sulawesi Utara misalnya, panas bumi telah dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Pelajar diajak memahami bahwa energi terbarukan bukan hanya soal teknologi, tapi soal cara pandang terhadap alam. Bahwa bumi bukan hanya tempat kita berdiri, tapi juga sumber kehidupan yang dapat diperbaharui jika kita hormati. Pendidikan macam ini tidak hanya membekali pengetahuan, tapi menanamkan tanggung jawab. Dan jika di Sulawesi Utara bisa, mengapa tidak di Rembang? Mengapa anak-anak Rembang tidak diajarkan bahwa panas yang mereka rasakan setiap hari adalah modal, bukan hanya beban?​

Potensi dampak sosialnya pun luas. Energi panas bumi membuka lapangan kerja dari eksplorasi hingga operasional. Solusi ini bisa menggerakkan ekonomi lokal yang mandiri, sehingga tidak bergantung pada impor energi fosil yang harganya ditentukan pasar global yang tak menentu. Geo Dipa Energi, salah satu BUMN yang fokus pada panas bumi, telah membuktikannya di Dieng dan Patuha dengan kapasitas 115 MW, dan target ekspansi hingga 500 MW. Bukan angka yang kecil. Tapi bukan pula angka yang mencukupi untuk negeri sebesar Indonesia. Untuk itu, Kementerian Keuangan, dengan visi transisi energi yang berkelanjutan, terus memberikan dukungan pada pengembangan ini. Namun dukungan saja tidak cukup. Dibutuhkan kesadaran. Dibutuhkan pendidikan. Dibutuhkan mimpi kolektif yang dirawat bersama.​

Pada akhirnya, panas di Rembang bukanlah takdir yang harus diterima begitu saja. Ini adalah undangan. Undangan untuk memikirkan ulang relasi kita dengan alam. Undangan untuk melihat bahwa teknologi dan kebijaksanaan lokal dapat berjalan beriringan. Undangan untuk menjadikan pendidikan sebagai jembatan antara generasi yang mewarisi masalah dan generasi yang menemukan solusi.

R.A. Kartini, seorang revolusioner perempuan yang dulu sempat berjuang di kabupaten Rembang, pernah menulis surat-surat yang mengubah cara pandang dunia terhadap perempuan pribumi. Ia bermimpi di tengah keterbatasan. Dan mimpinya terwujud bukan karena ia punya segala-galanya, tapi karena ia percaya bahwa perubahan selalu dimulai dari kegelisahan yang dirawat menjadi aksi. Pertanyaanya, apakah kita siap menjawab undangan itu? Atau kita akan terus duduk di atas panas, sambil mengeluh tentang teriknya, tanpa pernah membayangkan bahwa dari sanalah cahaya bisa muncul?

Geo Dipa. Sumber: Anis Efizudin (Antara)

Panas adalah kutukan sekaligus berkah. Di kabupaten Rembang, terik matahari siang harinya bisa menyengat kulit seperti cambuk lembut yang tak kunjung berhenti. Disini, panas bukan sekadar soal meteorologi. Ia adalah realitas hidup sehari-hari. Anak-anak sekolah berjalan menapaki jalan aspal yang memancarkan uap. Nelayan pulang dengan kulit yang terbakar warna cokelat tua. Petani mengeringkan padi di bawah terik yang kadang terlalu dermawan, kadang terlalu pelit. Lalu kita bertanya: mengapa yang membakar tak pernah menjadi yang menerangi?​

Pertanyaan itu bukan retorika kosong. Indonesia, yang merupakan cincin api dunia, memiliki 29,5 GW potensi panas bumi, terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Namun yang termanfaatkan? Hanya 11 persen. Angka yang membuat kita tercenung. Seperti orang yang duduk di atas harta karun namun tak kunjung membuka peti. Seperti Rembang yang panasnya menyiksa, namun listriknya masih bergantung pada batubara yang kian menipis dan mencemari.​

Panas bumi adalah paradoks yang elegan. Ia datang dari dalam perut bumi, dari magma yang tak pernah padam sejak jutaan tahun silam. Api yang tak terlihat namun terasa. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi bekerja 24 jam tanpa henti, tanpa polusi seperti PLTU batubara yang melepaskan hampir 900 gram CO per kWh, sementara panas bumi hanya 45-80 gram. Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah pilihan etis untuk masa depan. Untuk anak cucu yang akan mewarisi bumi ini.

Preliminary design of MiniGeo an off the grid geothermal power plant. Sumber: IF Technology

Kopi kamojang. Sumber: akwnulis.id

Produk Pupuk Booster Katrili. Sumber: PGE

Ground Source Heat Pump. Sumber: https://rmi.org/

Balneoterapi. Sumber: Gösterim