Menggali Energi Geotermal di Pesisir untuk Kemandirian Energi Nasional
Lomba Menulis Artikel Kemenkeu Mengajar 10
Oleh: Cheryl Puspita Helmi
10/30/20253 min read


Di balik ketenangan lautan dan keheningan pesisir Nusantara, sesungguhnya bumi sedang berbisik. Di kedalaman yang sunyi, tersimpan bara abadi, api yang tak pernah padam dan selalu menunggu disentuh oleh kebijaksanaan manusia. Inilah geotermal, napas hangat dari rahim bumi yang mengalir di antara batu dan magma. Energi ini menunggu saat yang tepat untuk menerangi negeri yang sudah kaya cahaya, namun masih terjebak dalam bayang-bayang ketergantungan energi fosil. Indonesia, sebagai tanah yang terletak di atas cincin api dunia, menyimpan panggung pertunjukan alam luar biasa. Gunung-gunung yang menjulang tinggi bukan hanya monumen geologi; mereka adalah tanda kuat keberadaan kekuatan yang mampu menyulut masa depan cerah.
Di Indonesia, potensi panas bumi mencapai sekitar 40% dari total cadangan dunia. Wilayah yang berada di sepanjang jalur gunung berapi dari Sabang sampai Merauke menyimpan energi laten ini. Namun sayangnya, sampai saat ini baru kurang dari 10% potensi tersebut yang dimanfaatkan. Beberapa daerah, seperti Dieng, Kamojang, Lahendong, dan Wayang Windu, sudah lebih dulu memanfaatkan panas bumi sebagai sumber energi listrik. Aktivitas vulkanik dan pergeseran lempeng tektonik yang terjadi di kawasan pesisir dan bawah tanah menciptakan reservoir panas yang luar biasa. Sayangnya, sebagian besar lokasi berpotensi tersebut berada di daerah terpencil, jauh dari pusat konsumsi listrik, bahkan terkadang berlokasi di wilayah konservasi. Hal ini menimbulkan dilema ekologis dan sosial.
Kendala terbesar pengembangan energi geotermal bukan karena teknologi yang belum ada, melainkan tingginya biaya eksplorasi dan ketidakpastian hasil pengeboran. Sebelum sebuah proyek geotermal dapat beroperasi, diperlukan studi geologi mendalam, survei seismik, hingga pengeboran eksplorasi yang biayanya bisa mencapai jutaan dolar per sumur. Tidak jarang usaha tersebut berakhir tanpa hasil karena tidak ditemukannya cadangan panas bumi yang ekonomis. Selain itu, tumpang tindih regulasi dan perizinan yang rumit turut memperlambat investasi, menyebabkan banyak proyek berhenti di tengah jalan karena kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang berubah-ubah. Faktor sosial pun menjadi tantangan, terutama kurangnya pemahaman masyarakat lokal tentang potensi dan dampak pengembangan energi panas bumi.
Namun, pertanyaan yang kerap muncul adalah mengapa kita harus memperhatikan “api sunyi” ini? Apa keistimewaannya? Jawabannya memang sederhana; di sana terdapat kemandirian sejati. Energi geotermal tidak bergantung pada waktu atau cuaca, ia terus ada bahkan saat malam tak berbintang dan angin berhenti berhembus. Ia adalah janji kesetiaan bumi kepada manusia, selama manusia tahu bagaimana cara untuk mendengarnya. Dari segi lingkungan juga lebih ramah daripada bahan bakar batu bara yang menghasilkan emisi CO₂ tinggi; energi geotermal hanya mengeluarkan jejak karbon yang minim. Ini adalah solusi nyata untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Dari aspek ekonomi jangka panjang, meskipun biaya awal pengembangan cukup tinggi, operasi dan pemeliharaan energi geotermal bisa dilakukan dengan biaya rendah. Setelah fasilitas dibangun, energi yang dihasilkan pun efisien dan dapat bertahan selama puluhan tahun. Lebih jauh lagi, eksplorasi ini membuka lapangan pekerjaan baru di sektor teknik, geologi, dan lingkungan.
Untuk dapat menyalakan api sunyi itu menjadi cahaya bagi bangsa, beberapa langkah penting mesti dijalankan. Pertama, dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal. Eksplorasi geotermal harus menggenggam prinsip keberlanjutan, memastikan pembangunan tidak merusak alam atau mengabaikan kesejahteraan manusia. Edukasi publik menjadi kunci agar energi geotermal tak lagi dianggap ancaman, melainkan anugerah yang harus diapresiasi. Kedua, pemerintah perlu mendorong kebijakan yang ramah investasi dengan memberikan insentif kepada pengembang energi bersih. Negara pun harus hadir sebagai penggerak utama, bukan penonton pasif. Sementara dunia berlomba menuju energi hijau, seharusnya Indonesia sudah menyalakan obor kemandiriannya dari energi panas bumi.
Kini, di balik pesisir yang tenang dan batuan yang tampak membisu, bumi tetap bernapas hangat. Api sunyi itu belum padam dan tetap menunggu disentuh oleh tangan yang tulus, pikiran yang jernih, serta kebijakan yang berani. Indonesia bukan hanya negeri seribu pulau, melainkan juga negeri seribu bara. Bara yang bisa menjadi bencana, tetapi juga bisa menjadi cahaya. Saat bangsa ini mampu memeluk api sunyi itu dengan kebijaksanaan, akan lahir terang yang menyulam masa depan, menerangi langkah, dan membisikkan harapan bahwa cahaya sejati tidak berasal dari langit, melainkan dari bumi yang kita pijak sendiri.
“Api sunyi di bawah pesisir” bukan sekadar metafora geologis, melainkan simbol kekuatan yang tersembunyi dan menunggu disentuh oleh visi dan keberanian bangsa. Di tengah krisis iklim global, energi geotermal hadir sebagai warisan alam yang dapat membawa Indonesia menuju kemandirian energi sekaligus menjaga keseimbangan bumi. Membangun masa depan energi bersih bukanlah pekerjaan semalam, melainkan perjalanan panjang yang dimulai dengan langkah kecil. Dari keberanian menggali panas bumi di bawah kaki kita, hingga menyalakan cahaya bagi seluruh nusantara. Ketika bumi memberikan panasnya untuk kita, tugas kita adalah mengolahnya menjadi cahaya yang menyinari masa depan. Pertanyaannya, sudahkah kita menyiapkan gerakan untuk menyambut masa depan cerah itu?
Dieng Small Scale Geothermal Power Plant. Sumber: thinkgeoenergy.com
