GEOTERANG

Lomba Menulis Artikel Kemenkeu Mengajar 10

Oleh: Amira Nabila Aulia

10/30/20254 min read

Sumber: visitjawatengah.jatengprov.go.id
Sumber: visitjawatengah.jatengprov.go.id

Apa itu Geoterang? Geoterang adalah singkatan dari geonergi terbarukan terang di sepanjang pantai, penggerak pertanian Rembang, sebuah kabupaten yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah. Daerah ini dikenal karena keindahan lautnya yang tenang, perbukitan kapur yang menjulang tinggi, dan masyarakat yang hidup bergantung pada laut dan lahan pertanian. Namun di balik semua pesona alam itu, tersimpan potensi besar yang jarang disentuh, yaitu energi panas bumi. Energi panas yang terpendam di perut bumi ini bukan hanya sekadar sumber energi alternatif, melainkan juga simbol harapan baru bagi masyarakat yang mendambakan kehidupan yang lebih sejahtera dan berkelanjutan.

Energi panas bumi, atau geothermal energy, adalah energi yang berasal dari panas alami di dalam bumi dan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik, mengeringkan hasil pertanian, atau menghangatkan rumah kaca pertanian di daerah berhawa dingin. Meskipun potensinya sangat besar, sayangnya masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa panas bumi bukan hanya untuk pembangkit listrik saja, tetapi juga bisa menjadi kunci kemajuan pertanian, yang selama ini masih menjadi tulang punggung perekonomian Rembang.

Bayangkan apabila energi yang menyala sepanjang pantai Rembang tidak hanya menerangi rumah-rumah nelayan, tapi juga sawah dan ladang petani di pedalaman. Energi yang berasal dari rahim bumi itu bisa membantu petani menekan biaya produksi, memperbaiki kualitas panen, dan pada akhirnya menguatkan ketahanan pangan lokal. Inilah inti dari pembahasan utama kita.

Rembang memiliki karakteristik geologis yang unik. Berdasarkan data dari Pusat Sumber Daya Geologi (PSDG) Kementerian ESDM, kawasan Jawa Tengah, termasuk sebagian wilayah Rembang, punya cadangan panas bumi dengan potensi energi yang mencapai ribuan megawatt. Namun hingga kini, pemanfaatan energi tersebut masih sangat terbatas dan belum secara signifikan tersentuh di sektor pertanian.

Seharusnya, jika energi panas bumi bisa dikembangkan dengan tepat, manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam bidang kelistrikan. Energi itu juga berpotensi mengubah wajah pertanian di daerah ini. Petani tidak lagi harus bergantung sepenuhnya pada bahan bakar minyak atau listrik konvensional untuk mengoperasikan mesin pompa air, pengering gabah, hingga sistem irigasi modern. Energi panas bumi bisa menjadi alternatif yang bersih, efisien, dan berkelanjutan.

Namun, yang menjadi masalah sekarang adalah kesenjangan pemanfaatan energi antara masyarakat pesisir dan pedesaan. Pembangunan fasilitas energi sering kali berfokus pada daerah pantai, yang dekat dengan pusat industri dan pelabuhan. Sementara itu, petani di daerah pedalaman masih belum menikmati manfaat yang sama. Mereka masih menghadapi disparitas biaya produksi yang tinggi serta ketergantungan pada bahan bakar fosil yang harganya sering tidak stabil.

Indonesia sendiri memiliki potensi panas bumi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, dengan kapasitas sekitar 23,7 gigawatt (GW). Namun, pemanfaatannya baru mencapai sekitar 10 persen dari total potensi ini (ESDM, 2024). Hal ini jelas menunjukkan bahwa masih ada ruang luas untuk pengembangan yang dapat berdampak langsung pada sektor pertanian.

Menurut informasi dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, potensi panas bumi di Jawa Tengah mencapai 965 megawatt ekuivalen (MWe) dan tersebar di enam wilayah. Di Rembang sendiri, pemanfaatan energi panas bumi dalam sektor pertanian masih sangat rendah, sementara pemanfaatan minyak bumi dan gas bumi, terutama di sektor pertambangan, berkontribusi sangat besar, mencapai 75 persen dari pajak bumi.

Contoh yang menginspirasi datang dari Jepang, negara yang sukses mengintegrasikan penggunaan energi panas bumi dengan aktivitas pertanian. Di Prefektur Oita, energi panas bumi digunakan untuk menghangatkan rumah kaca, mempercepat pertumbuhan tanaman, serta mengeringkan hasil panen tanpa bergantung pada cuaca. Hasilnya adalah peningkatan produksi pertanian yang signifikan dan pengurangan emisi karbon yang drastis.

Model seperti ini sangat mungkin diterapkan di Rembang. Dengan kondisi tanah subur dan sumber panas bumi yang terletak di sekitar perbukitan, energi tersebut dapat dimanfaatkan untuk beberapa hal, seperti sistem pengering hasil panen. Petani bisa mengeringkan gabah atau jagung menggunakan energi panas bumi tanpa harus menunggu sinar matahari yang tidak menentu.

Selanjutnya, energi panas bumi juga bisa digunakan sebagai pembangkit listrik pertanian untuk menggerakkan pompa air irigasi yang dapat menghemat biaya listrik dari PLN, sekaligus mengurangi emisi karbon. Petani hortikultura bahkan bisa menanam sayur atau buah sepanjang tahun dalam rumah kaca yang suhunya dijaga stabil menggunakan energi ini.

Di samping itu, di daerah pesisir, energi panas bumi dapat digunakan untuk mengolah hasil laut, seperti pengeringan ikan dan rumput laut secara higienis tanpa menggunakan bahan bakar konvensional. Ini tentunya dapat meningkatkan nilai jual produk lokal dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Namun, kendala utama saat ini adalah masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang teknologi energi panas bumi serta kurangnya dukungan kebijakan dari pemerintah daerah dalam mengintegrasikan sektor energi dan pertanian. Padahal, jika ada sinergi dan kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, potensi ini bisa diolah menjadi kekuatan ekonomi baru yang luar biasa.

Untuk mewujudkan visi “Rembang Terang oleh Panas Bumi”, langkah konkret perlu diambil. Pertama, edukasi dan sosialisasi masyarakat harus ditingkatkan. Pemerintah daerah dan lembaga pendidikan perlu mengadakan pelatihan tentang manfaat energi panas bumi bagi pertanian supaya masyarakat lebih terbuka terhadap inovasi energi terbarukan.

Kedua, kemitraan antara pemerintah, sektor swasta, dan petani sangat diperlukan. Proyek percontohan perlu dibuat di desa-desa yang memanfaatkan energi panas bumi untuk pertanian sehingga bisa menjadi inspirasi bagi desa lain dalam mengelola energi lokal.

Ketiga, dukungan infrastruktur dan kebijakan harus diberikan oleh pemerintah. Pembangunan sistem energi panas bumi skala kecil atau micro geothermal system yang dapat langsung digunakan masyarakat tanpa harus melalui jaringan listrik besar sangatlah penting.

Dengan usaha dan langkah-langkah ini, energi panas bumi akan lebih dari sekadar sumber listrik industri, ia akan menjadi sumber kehidupan yang menguatkan petani dan nelayan. Jika dulu Rembang dikenal dengan cahaya lampu nelayan yang berkelip di sepanjang pantai, kini saatnya daerah ini dikenal dengan cahayanya sendiri, yang lahir dari kekuatan bumi, yang tidak hanya menerangi lautan tapi juga menyuburkan sawah dan menghidupkan perekonomian desa.

Kemandirian energi bukanlah sekadar mimpi hijau yang muluk, melainkan kebutuhan nyata agar petani terlepas dari lingkaran biaya yang tinggi dan ketergantungan energi. Panas bumi di dalam bumi adalah terang masa depan, dan cahaya itu harus bersinar untuk semua. Dari ladang hingga ke pantai, itulah harapan besar yang sepatutnya kita perjuangkan bersama.